Cara blogger mengembalikan jati diri bangsa
Mengembalikan jati diri bangsa bagi seorang blogger bukanlah sesuatu yang tidak mungkin untuk dilakukan. Ibarat sebuah lagu, blogger juga manusia yang bisa melakukan banyak hal baik menghidupi diri dan keluaga juga bisa melakukan sesuatu yang mulia yakni mengembalikan jati diri bangsa, jati diri bangsa Indonesia yang kian hari kian pudar dan akibatnya Negara lain dengan congkak menginjak-injak kehormatan bangsa yang mungkin memang sejatinya nyaris sirna. Banyak hal yang bisa dilakuan oleh blogger untuk mendukung kampanye ini, siapapun yang terlibat dalam dunia blogging mampu memberikan sesuatu bagi bangsa demi perbaikan citra dimulai dari terus secara konsisten memberikan doktrin-doktrin positif kepada pengunjung blog dan juga dengan cara secara rutin mempublikasikan budaya-budaya warisan nenek moyang sebagai identitas bangsa Indonesia.
Ada banyak hal lain yang bisa dilakukan blogger untuk mengembalikan jati diri bangsa, salah satunya dengan cara tidak melakukan hal-hal negative, spam dan scam terhadap layanan atau program-program bisnis online yang mereka ikuti. Sebagai contoh, jika anda adalah seorang adsense publisher, anda dapat turut berpartisipasi dalam kampanye mengembalikan jati diri bangsa dengan tidak melakukan click fraud atau trik curang lainnya. Saat ini, Indonesia masih berada di rangking sepuluh besar sebagai Negara dengan click fraud tertinggi. Citra buruk ini bisa kita hapus, dan dengan citra diri yang baik, sebagai blogger kita patut bangga dan terus mencoba memperbaiki ini, karena dengan citra diri yang baik maka ini menjadi cerminan jati diri bangsa yang jujur dan yah bisa saja disebut adsense publisher professional.
Selain itu jika anda adalah seorang blogger yang suka dengan bisnis-bisnis link dan blogpost sale di forum-forum bisnis internet, anda bisa juga terus mendukung kampaye mengembalikan jati diri bangsa dengan tidak melakukan hal-hal negative seperti yang banyak dilakukan member dari Negara tertentu. Sebagai blogger tentu anda tahu bagaimana sulitnya bersaing di dalam bisnis online, apalagi di forum semacam digitalpoint, nah dengan tetap menjadi seorang penjual ataupun pembeli yang baik, jujur dan professional, anda telah memperbaiki jati diri bangsa, mengembalikan jati diri yang kini semakin pudar bahkan hilang. Kepercayaan member dari Negara lain akan memberikan nilai positif yang kecil tapi tetap berdampak baik bagi jati diri dan citra bangsa. Saya sendiri tetap berusaha begitu, dan saya dengan lantang mengatakan bahwa saya berasal dari Indonesia, Negara yang banyak ditindas oleh Eropa bahkan tetangga sendiri, tapi tetap bisa menjadi pelaku bisnis online yang jujur dan professional, jadi tidak ada alasan bagi orang lain untuk mencemooh kita karena jati diri bangsa Indonesia adalah jati diri yang telah mantap bercokol di dada, bahwa Indonesia adalah Negara cinta damai, jujur, beriman, menghormati sesama, bukan Negara penipu apalagi sarang teroris.
Kampaye ini saya pikir sangat penting, karena dengan dukungan blogger, kita dapat mengembalikan jati diri bangsa Indonesia yang benar-benar sejati, bukan bak seorang anak muda yang pontang-panting tak karuan kehilangan jati diri dan kehilangan pedoman. Kita para blogger dengan tegas dan penuh komitment untuk mengembalikan jati diri bangsa sebenarnya, ke jati diri sebuah Negara nan ramah, cinta damai dan saling menghormati. Blogger yang juga manusia, bisa melakukan lebih dari sekedar berkampanye, blogger juga bisa berbuat dengan langkah konkrit penuh konsistensi.
Mengembalikan jati diri bangsa dengan sebuah keterbukaan pikiran
Mengembalikan jati diri bangsa ini membutuhkan tindakan konkrit yang besar, konsisten dan penuh tanggung jawab. Dan ternyata tidak pernah mudah apalagi dengan kapasitas kita yang terkadang tidak memungkinkan untuk membicarakan hal sebesar itu. Jati diri bangsa ini memang perlahan kian hilang dari tangkainya, dan kita tidak bisa menyerahkan begitu saja masa depan bangsa ini kepada generasi muda yang sekarang sudah tak pernah mau tahu lagi dengan keadaan bangsa ini. Jangankan mengembalikan kebangaan bangsa, memikirkan masa depannya sendiri saja sangat susah. Di judul aku utarakan bahwa untuk memiliki kembali jati diri yang hilang ini diperlukan sebuah keterbukaan pikiran. Keterbukaan pikiran yang bagaimana? Apa itu keterbukaan pikiran dan apapula kaitannya dengan jati diri bangsa?
Keterbukaan pikiran membuat seseorang mampu menerima segala bentuk masukan, perkembangan, perubahan, teknologi, evolusi, doktrin dan juga intervensi. Namun keterbukaan atas semua hal itu tentulah berkaitan dengan hal yang positif dan mampu diterima dalam masyarakat dan ideologi bangsa ini. Keterbukaan pikiran adalah keadaan di mana kita mampu untuk menganalisa sesuatu yang baru namun tetap membiarkan logika, norma dan aturan menjadi batasan. Ketika pikiran kita terbuka, maka kita mampu menerima dan nantinya menelaah sesuatu menjadi sebuah kesimpulan. Kita bertanggung jawab atas apa yang menjadi pemikian dan tindakan kita. Sehingga apapun yang kita perbuat akan mencerminkan keterbukaan yang jujur, apa adanya, tidak “ngoyo” dan penuh komitmen. Ketika itu menjadi sebuah pemikiran yang permanent pasti kita bisa mengembalikan jati diri bangsa tanpa harus mengkhawatirkan perubahaan tak terkendali dari aspek manapun.
Siapa yang peduli dengan bangsa ini akan terus berbuat hal positif demi nama baik dan kekekalan jati diri bangsa. Siapapun tentu menginginkan kehormatan dan identitas sehingga kita dikenal dan dihormati sebagai Negara atau bangsa yang memegang teguh norma dan agama sebagai bagian dari jati diri bangsa yang tidak mudah untuk digoyang apalagi dirobohkan. Mengembalikan jati diri bangsa menjadi sebuah keharusan dengan alasan apapun kita harus menggalang gerakan ini demi masa depan yang lebih baik. Bangsa Indonesia bukan bangsa tanpa aturan dan norma, segala praktek maksiat, kejahatan, korupsi, kolusi dan nepotisme harus dilenyapkan agar kita punya identitas berharga demi sebuah kehormatan bangsa.
Membuka pikiran akan perubahan memang seperti membiarkan budaya asing merajalela. Ya, jika kita tidak juga membuka pikiran akan bagaimana cara menyaring budaya itu menjadi sebuah perubahan jaman. Buka pikiran namun buka pula cara meredam, bukan dengan cara membuka dan menerima tapi tidak peduli dengan resiko dan akibatnya nanti. Pikiran menjadi titik utama dalam mengembalikan jati diri bangsa ini, karena dengan pikiran kita bisa menyaring dan menggunakan logika, mendorong tubuh dan anggota badan untuk berbuat sesuai dengan apa yang kita pikirkan, dan pada akhirnya mendorong orang lain untuk melakukan hal sama demi satu tujuan mulia. Bangsa ini harus kembali ke jati dirinya yang dulu, ke jati dirinya yang sebenarnya. Perubahan ini harus segera dilakukan agar masa depan bangsa tidak terombang-ambing dan akhirnya membawa kita ke jurang penjajahan budaya, penjajahan moral dan penjajahan pola pikir.
Mengembalikan jati diri bangsa, masih pentingkah?
Banyak orang meragukan kemampuan kita untuk mengembalikan jati diri bangsa yang bisa dikatakan sudah mulai hilang dan tak jelas lagi orientasinya. Namun, rasanya tak pantas jika kita sebagai masyarakat yang berpijak di tanah air ini meragukan kemampuan diri sendiri untuk berubah menjadi lebih baik. Banyak pula orang yang tidak tahu bahwa jati diri bangsa kita sudah di ambang kepunahan, bahkan sebagian dari mereka tidak tahu apa arti jati diri bangsa bagi citra dan kehormatan Negara. Banyaknya kejadian-kejadian negatif di tanah air seperti kerusuhan atas nama agama, bentrok politik, keamanan, teroris dan dinamika budaya memberikan citra buruk bagi bangsa kita, meskipun secara lebih inten itu bukanlah gambaran jati diri yang sebenarnya, Negara kita bisa lebih dewasa ketika segala macam kejadian-kejadian itu melanda Indonesia, dan pelajaran demi pelajaran diharapkan mampu mengembalikan jati diri bangsa yang tengah berada di ambang sirna. Proses ini akan tetap menjadi fokus kita bersama tatkala pengaruh budaya-budaya asing yang tak bermoral semakin merajalela dan mencoba menggeser nilai-nilai budaya yang juga sebagai bagian dari jati diri bangsa ini.
Mengembalikan jati diri bangsa adalah sesuatu yang sangat penting guna tetap mempertahankan citra dan kehormatan bangsa. Bila setiap orang di Negara tercinta ini mau dan mampu melakukan hal kecil saja misal tetap menjadikan pendidikan dan agama sebagai prioritas tentu akan banyak remaja-remaja generasi muda yang berkualitas dan mampu bersaing di kancah internasional dan lambat namun pasti akan mengembalikan jati diri bangsa di mata internasional dan juga di mata sang pencipta. Saya sebagai generasi muda menyadari betul bahwa masa depan kita ditentukan bagaimana kita bersikap hari ini, masa depan tidak akan berubah jika kita tidak berusaha merubahnya dan masa lalu tidak akan menjadi kenangan indah jika tidak menghasilkan masa depan yang cerah. Tentu anda akan sengan mengenang masa lalu anda yang penuh perjuangan tepat ketika anda menjabat sebagai seorang menteri atau kepala dinas di bagian yang anda inginkan. Semua orang memimpikan hal itu, tapi tidak semua orang mau bekerja keras mencapai apa yang mereka inginkan. Jati diri seperti itu yang harus dikembalikan ke tanah air, sehingga bangsa yang tengah menggeliat ini dapat melangkah tegap sambil berteriak lantang, aku Indonesia yang penuh dedikasi dan perjuangan, itulah jati diri yang sejati.
Belakangan ini bagian barat Indonesia tengah tertimpa musibah gempa yang menewaskan paling tidak 600 korban jiwa dan ini masih akan terus bertambah. Di masa seperti ini, bangsa membutuhkan sosok tangguh untuk tetap bisa bertahan dan tetap terus berupaya mengembalikan jati diri bangsa walaupun dengan sebelah tangan tengah terluka. Banyaknya bantuan asing menunjukkan bahwa kita masih punya jati diri, dulu kita suka membantu, dulu kita suka menolong, inilah jati diri yang kita punya dulu ketika jaya, ketika kita masih menjunjung tinggi kebersamaan dan kita wajib mengambalikan jati diri bangsa itu ke tempatnya semula agar pengakuan oleh bangsa lain semakin kokoh dan abadi.
Pada akhirnya mengembalikan jati diri bangsa menjadi tantangan yang penuh rintangan dan cobaan, karena kita harus tetap berpikir positif akan kemajuan yang kita miliki di masa sekarang dan untuk masa depan. Kejayaan yang dulu pernah kita perjuangkan menjadi jati diri yang hingga kini masih kita punyai meski tak sepenuhnya utuh, dan perjuangan kedua untuk mengembalikan jati diri bangsa ini kita gunakan untuk memperkuat yang sudah terbentuk hingga sempurna.
Mengembalikan jati diri bangsa vs Melawan pencuri budaya
Mengembalikan jati diri bangsa membutuhkan waktu yang sangat lama karena kita berbicara tentang fundamental Negara, sedangkan melawan pencuri budaya hanya membutuhkan ketegasan di mana kita bisa saja melakukannya lebih tegas dari yang sudah kita lakukan sehingga kejadian pencurian warisan budaya tidak terjadi berulang kali, apalagi dilakukan oleh Negara yang sama. Ataukah antara mengembalikan jati diri bangsa dan melawan pencuri budaya terdapat keterkaitan? Mungkin saja, mari kita bahas bersama.
Mengembalikan jati diri bangsa berkaitan dengan bagaimana kita mengembalikan nilai-nilai yang kita akui sebagai pondasi dan nilai atau norma sehingga kita tahu apa yang menjadi batasan dari setiap tindakan. Apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan, dari nilai budaya, norma dan perilaku bangsa kita tahu bagaimana bersikap dalam keseharian, menyikapi perbedaan dan melakukan apa yang harus dilakukan. Semua nilai itu tercermin dan terefleksi dalam tindakan lalu berubah menjadi identitas masyarakat dan dalam skop yang lebih besar menjadi identitas bangsa atau jati diri bangsa. Tapi, jati diri bangsa kita kian hari kian merapuh dan memudar.
Nilai-nilai itu sudah tidak dipakai sebagai aturan dan pedoman menilai benar dan salahnya suatu tindakan. Banyak tindakan-tindakan dan kejadian-kejadian yang menggambarkan bahwa degradasi moral dan norma bangsa kita semakin parah, menandakan bahwa kita kian kehilangan jati diri yang sebenarnya. Perlu diambil langkah-langkah konkrit agar dapat dengan segera mengembalikan apa yang kian hilang itu, dan mungkin pencurian warisan budaya juga sebagai pertanda bahwa bangsa lain sudah berani menganggu kedaulatan bangsa kita yang mungkin dinilai tak lagi punya jati diri lagi.
Pencurian warisan budaya oleh Negara lain (red: Malaysia) adalah suatu contoh konkrit bagaimana kita tidak lagi bisa mempertahankan kedaulatan meskipun ini tidak terkait pencurian sebagian wilayah Indonesia. Bayangkan jika seandainya gaya bicara anda diambil oleh orang lain dengan gaya dan logat yang 100% sama, apakah anda masih merasa mempunyai jati diri? Atau apakah anda masih merasa 100% itu adalah diri anda lagi? Saya rasa tidak. Anda tentu ingin mengembalikan jati diri anda tanpa ingin apapun dari diri anda diambil atau ditiru oleh orang lain. Sama halnya dengan pencurian beberapa warisan budaya bangsa kita, saya pun akan berteriak dengan lantang bahwa itu sebuah penghinaan dan kita harus segera mempertahankan itu agar kita dapat mengembalikan jati diri bangsa sebagai satu keutuhan.
Klaim yang dilakukan oleh Malaysia terhadap beberapa warisan budaya kita tidak dapat ditolerir dan sebagai upaya mengembalikan apa yang kita punya tentu tindakan tegas harus dilakukan sebagaimana ketegasan kita mempertahankan hak asasi untuk merdeka, dan kita mengorbankan nyawa untuk mendapatkannya. Mempertahankan apa yang menjadi hak kita dari bangsa lain adalah upaya mengembalikan jati diri bangsa sebagaimana yang kita lakukan ketika menemukan jati diri bangsa. Pemerintah harus lebih tegas apabila menemukan kasus yang sama apalagi melibatkan Negara yang sama, seperti yang kita semua tahu, pencurian tari Pendet adalah kasus ke sekian setelah beberapa warisan budaya lain yang notabene adalah kepunyaan kita, Negara kesatuan republik Indonesia. Kita punya ideology yang mulia, pantang mengambil apapun yang bukan milik kita, dan pantang mengakui apapun yang jelas bukan bagian dari kedaulatan kita.