Mengembalikan jati diri bangsa vs Melawan pencuri budaya

Mengembalikan jati diri bangsa membutuhkan waktu yang sangat lama karena kita berbicara tentang fundamental Negara, sedangkan melawan pencuri budaya hanya membutuhkan ketegasan di mana kita bisa saja melakukannya lebih tegas dari yang sudah kita lakukan sehingga kejadian pencurian warisan budaya tidak terjadi berulang kali, apalagi dilakukan oleh Negara yang sama. Ataukah antara mengembalikan jati diri bangsa dan melawan pencuri budaya terdapat keterkaitan? Mungkin saja, mari kita bahas bersama.

Mengembalikan jati diri bangsa berkaitan dengan bagaimana kita mengembalikan nilai-nilai yang kita akui sebagai pondasi dan nilai atau norma sehingga kita tahu apa yang menjadi batasan dari setiap tindakan. Apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan, dari nilai budaya, norma dan perilaku bangsa kita tahu bagaimana bersikap dalam keseharian, menyikapi perbedaan dan melakukan apa yang harus dilakukan. Semua nilai itu tercermin dan terefleksi dalam tindakan lalu berubah menjadi identitas masyarakat dan dalam skop yang lebih besar menjadi identitas bangsa atau jati diri bangsa. Tapi, jati diri bangsa kita kian hari kian merapuh dan memudar.

Nilai-nilai itu sudah tidak dipakai sebagai aturan dan pedoman menilai benar dan salahnya suatu tindakan. Banyak tindakan-tindakan dan kejadian-kejadian yang menggambarkan bahwa degradasi moral dan norma bangsa kita semakin parah, menandakan bahwa kita kian kehilangan jati diri yang sebenarnya. Perlu diambil langkah-langkah konkrit agar dapat dengan segera mengembalikan apa yang kian hilang itu, dan mungkin pencurian warisan budaya juga sebagai pertanda bahwa bangsa lain sudah berani menganggu kedaulatan bangsa kita yang mungkin dinilai tak lagi punya jati diri lagi.

Pencurian warisan budaya oleh Negara lain (red: Malaysia) adalah suatu contoh konkrit bagaimana kita tidak lagi bisa mempertahankan kedaulatan meskipun ini tidak terkait pencurian sebagian wilayah Indonesia. Bayangkan jika seandainya gaya bicara anda diambil oleh orang lain dengan gaya dan logat yang 100% sama, apakah anda masih merasa mempunyai jati diri? Atau apakah anda masih merasa 100% itu adalah diri anda lagi? Saya rasa tidak. Anda tentu ingin mengembalikan jati diri anda tanpa ingin apapun dari diri anda diambil atau ditiru oleh orang lain. Sama halnya dengan pencurian beberapa warisan budaya bangsa kita, saya pun akan berteriak dengan lantang bahwa itu sebuah penghinaan dan kita harus segera mempertahankan itu agar kita dapat mengembalikan jati diri bangsa sebagai satu keutuhan.

Klaim yang dilakukan oleh Malaysia terhadap beberapa warisan budaya kita tidak dapat ditolerir dan sebagai upaya mengembalikan apa yang kita punya tentu tindakan tegas harus dilakukan sebagaimana ketegasan kita mempertahankan hak asasi untuk merdeka, dan kita mengorbankan nyawa untuk mendapatkannya. Mempertahankan apa yang menjadi hak kita dari bangsa lain adalah upaya mengembalikan jati diri bangsa sebagaimana yang kita lakukan ketika menemukan jati diri bangsa. Pemerintah harus lebih tegas apabila menemukan kasus yang sama apalagi melibatkan Negara yang sama, seperti yang kita semua tahu, pencurian tari Pendet adalah kasus ke sekian setelah beberapa warisan budaya lain yang notabene adalah kepunyaan kita, Negara kesatuan republik Indonesia. Kita punya ideology yang mulia, pantang mengambil apapun yang bukan milik kita, dan pantang mengakui apapun yang jelas bukan bagian dari kedaulatan kita.