Mengembalikan jati diri bangsa dengan sebuah keterbukaan pikiran
Mengembalikan jati diri bangsa ini membutuhkan tindakan konkrit yang besar, konsisten dan penuh tanggung jawab. Dan ternyata tidak pernah mudah apalagi dengan kapasitas kita yang terkadang tidak memungkinkan untuk membicarakan hal sebesar itu. Jati diri bangsa ini memang perlahan kian hilang dari tangkainya, dan kita tidak bisa menyerahkan begitu saja masa depan bangsa ini kepada generasi muda yang sekarang sudah tak pernah mau tahu lagi dengan keadaan bangsa ini. Jangankan mengembalikan kebangaan bangsa, memikirkan masa depannya sendiri saja sangat susah. Di judul aku utarakan bahwa untuk memiliki kembali jati diri yang hilang ini diperlukan sebuah keterbukaan pikiran. Keterbukaan pikiran yang bagaimana? Apa itu keterbukaan pikiran dan apapula kaitannya dengan jati diri bangsa?
Keterbukaan pikiran membuat seseorang mampu menerima segala bentuk masukan, perkembangan, perubahan, teknologi, evolusi, doktrin dan juga intervensi. Namun keterbukaan atas semua hal itu tentulah berkaitan dengan hal yang positif dan mampu diterima dalam masyarakat dan ideologi bangsa ini. Keterbukaan pikiran adalah keadaan di mana kita mampu untuk menganalisa sesuatu yang baru namun tetap membiarkan logika, norma dan aturan menjadi batasan. Ketika pikiran kita terbuka, maka kita mampu menerima dan nantinya menelaah sesuatu menjadi sebuah kesimpulan. Kita bertanggung jawab atas apa yang menjadi pemikian dan tindakan kita. Sehingga apapun yang kita perbuat akan mencerminkan keterbukaan yang jujur, apa adanya, tidak “ngoyo” dan penuh komitmen. Ketika itu menjadi sebuah pemikiran yang permanent pasti kita bisa mengembalikan jati diri bangsa tanpa harus mengkhawatirkan perubahaan tak terkendali dari aspek manapun.
Siapa yang peduli dengan bangsa ini akan terus berbuat hal positif demi nama baik dan kekekalan jati diri bangsa. Siapapun tentu menginginkan kehormatan dan identitas sehingga kita dikenal dan dihormati sebagai Negara atau bangsa yang memegang teguh norma dan agama sebagai bagian dari jati diri bangsa yang tidak mudah untuk digoyang apalagi dirobohkan. Mengembalikan jati diri bangsa menjadi sebuah keharusan dengan alasan apapun kita harus menggalang gerakan ini demi masa depan yang lebih baik. Bangsa Indonesia bukan bangsa tanpa aturan dan norma, segala praktek maksiat, kejahatan, korupsi, kolusi dan nepotisme harus dilenyapkan agar kita punya identitas berharga demi sebuah kehormatan bangsa.
Membuka pikiran akan perubahan memang seperti membiarkan budaya asing merajalela. Ya, jika kita tidak juga membuka pikiran akan bagaimana cara menyaring budaya itu menjadi sebuah perubahan jaman. Buka pikiran namun buka pula cara meredam, bukan dengan cara membuka dan menerima tapi tidak peduli dengan resiko dan akibatnya nanti. Pikiran menjadi titik utama dalam mengembalikan jati diri bangsa ini, karena dengan pikiran kita bisa menyaring dan menggunakan logika, mendorong tubuh dan anggota badan untuk berbuat sesuai dengan apa yang kita pikirkan, dan pada akhirnya mendorong orang lain untuk melakukan hal sama demi satu tujuan mulia. Bangsa ini harus kembali ke jati dirinya yang dulu, ke jati dirinya yang sebenarnya. Perubahan ini harus segera dilakukan agar masa depan bangsa tidak terombang-ambing dan akhirnya membawa kita ke jurang penjajahan budaya, penjajahan moral dan penjajahan pola pikir.