Mengembalikan jati diri bangsa dengan politik yang sehat dan sportif

Mengembalikan jati diri bangsa ini yang kian pudar adalah sesuatu yang sulit untuk dilakukan jika tanpa dibarengi dengan tindakan konkrit di segala bidang baik itu politik, budaya, sosial, ekonomi dan agama. Elemen-elemen vital itu saling mempengaruhi satu sama lain, menciptakan semacam ikatan dan rotasi yang akan memberikan efek baik positif maupun negatif apabila terjadi ketidakseimbangan di antara mereka. Budaya adalah hal terpenting sebagai elemen pembentuk jati diri bangsa, budaya adalah identitas dan agama adalah tonggak bagi setiap perbedaan budaya dan identitas. Sosial dan ekonomi terbentuk secara kuat dan mantap akibat dari perpaduan budaya dan agama yang solid, sehingga dunia politik agar terus bergulir dengan lempeng, tanpa hambatan, persaingan menjadi sehat pergumulan penuh kekerabatan dan semangat demi satu tujuan tetap mempertahankan jati diri bangsa, jati diri bangsa Indonesia yang selalu menghormati perbedaan agama, warna kulit, ras, tradisi, budaya, daerah, bahasa dan asal muasal.

Tapi, bangsa kita seperti kehilangan jati diri tatkala agama justru memicu perpecahan, budaya saling bentrok bahkan mengakibatkan peperangan, ekonomi dan persaingan menjadi tidak sehat sementara tidak banyak yang bisa dilakukan guna mengembalikan jati diri bangsa yang di ambang sirna ini.

Jati diri bangsa ini akan mudah dikembalikan atau bahkan dipertahankan jika politik sehat dan persaingan pun sportif. Mengembalikan jati diri bangsa yang dulunya begitu kokoh dan benderang serasa memutar balik dunia, sungguh sangat sulit mengatur kekacauan ini, perpecahan terjadi di mana-mana, elit politik tak lagi saling menghormati dalam berkompetisi. Mereka saling menjatuhkan, saling menghujat dan saling menjauhkan silaturahmi, padahal mereka punya satu tujuan, ini hanya masalah siapa yang memegang kendali, lalu kenapa ideology, komitmen dan jati diri bangsa menjadi taruhan.

Elit politik yang sehat, jujur dan sportif seperti sebuah mimpi. Padahal, elit politik adalah kunci guna mengembalikan jati diri bangsa di mana mereka adalah tonggak di garis depan yang langsung menangani banyak hal yang berkaitan dengan bangsa dan pemerintahan.

Guna mengembalikan jati diri bangsa yang kian pudar, elit politik perlu untuk berbenah, sudah saatnya para elit politik untuk berkaca dan menepati apa yang telah mereka ucapkan, jika siap menang maka harus siap kalah. Tapi, kenyataan yang terjadi sekarang sungguh sangat memalukan. Mereka berkoar menyalahkan, mereka semangat membuka aib orang lain tapi tak terima jika menerima sekedar kritikan. Menghujat dan saling menjatuhkan berubah menjadi kewajiban, seolah jadi bumbu wajib yang harus dimiliki oleh elit politik untuk mengalahkan lawan dan mencapai tujuan mereka.

Bangsa ini membutuhkan perubahan, kita harus segera mengembalikan jati diri bangsa ini ke jati diri yang sejati. Generasi muda kita membutuhka jati diri bangsa yang sejati agar kelak ketika para pemimpin mereka telah tiada, banyak hal yang bisa dipelajari guna tetap mempertahankan jati diri bangsa dan mengembalikan jati diri yang sebenarnya. Mungkin para elit politik itu perlu mendapatkan sertifikasi psikologi agar mereka bisa merasakan bagaimana rasanya melihat sebuah adegan ketidak jujuran atau ketidak sportifan seseorang dalam sebuah kompetisi, sehingga mereka bisa intropeksi diri bahwa apa yang mereka lakukan diamati oleh masyarakat dan dinilai secara gambling di depan mata. Dari sekarang, perubahan perlu dilakukan minimal mencegah jati diri bangsa ini menghilang tanpa bekas, dan pada akhirnya membuat generasi muda kita kian tenggelam dalam ketidak pastian identitas.